Kisah Jalan Tol Jagorawi, Jalan Tol Pertama di Indonesia

Tol Jagorawi merupakan jalan terbaik yang kami miliki. Demikian pernyataan Presiden Soeharto dikala mensahkan tol Jagorawi di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur, 9 Maret 1978. Melintasi 59 kilometer, nama jalan ini yaitu singkatan dari kata Jakarta-Bogor-Ciawi. Lazimnya, Presiden Soeharto amat berbahagia dengan adanya tol Jagorawi. Ini karena ini yaitu jalan antar negara komponen pertama di Indonesia sebelum pembangunan ribuan kilometer jalan tol lainnya menyusul. Oleh PT Jasa Marga, Tol Jagorawi diperhatikan sebagai karya seni!

Pada awalnya jalan ini sudah dibereskan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pada pertengahan tahun 1966, padahal pada kesudahannya tidak berfungsi. Terang pada tahun 1970, karena kemacetan sebab meningkatnya jumlah kendaraan, jalan tol Jagorawi ternyata semakin kritis untuk membuatnya. Sekitar ketika itu, ada sekitar 222.000 kendaraan yang melalui jalan raya Jakarta.

Hingga hasilnya, perkembangan tol Jagorawi mulai dikenal pada 1973-1978 yang ditopang oleh aset dari agenda keuangan negara cuma sebagai bantuan dan aset uang muka yang asing. Segala ragam perencanaan telah selesai. Mulai dari inspirasi, lahan, hingga pekerja kontrak yang bekerja dengan telaten diteliti dengan teliti bersiap-siap untuk hasil yang pas. CItraGran Cibubur hunian dengan lokasi strategis hanya 2 Menit ke gerbang tol JORR 2.

Perdebatan tak bisa dihindari. Pekerja kontrak Korea Selatan Hyundari ditegur oleh pelbagai pertemuan karena dianggap telah mengacuhkan bagian fokus anak-si kecil muda negara itu. Salah satu reaksi Prof.Dr.Rooseno yang sangat frustasi sebab seperti yang diindikasikan olehnya, banyak arsitek di tanah air yang siap untuk menangani pembangunan tol Jagorawi.

Pembangunan tol Jagorawi

Jikalau pekerja honorer yang tak diketahui tergantung kepercayaan, Rooseno berdaya upaya bahwa buruh Indonesia hanya akan menjadi kuli atau mungkin menjadi bawahan. Rooseno sendiri sejujurnya Ir. Sutami yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Profesi Biasa dan Ketenagalistrikan (PUTL) [Antara Pustaka Utama, Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal H.M. Soeharto dalam Info: 1976-1978, 2008].

Sekalipun mendapat sorotan, Presiden Soeharto tidak berkutik dan menerima bahwa pilihannya bergabung dengan pertemuan yang tak lazim yakni yang terbaik. Presiden Soeharto menerangkan bahwa tak segala profesi pembetulan Jagorawi dilaksanakan oleh pekerja asing tetapi juga profesi pakar Indonesia.

“Walaupun pekerja kontrak itu berasal dari luar negeri, tetapi tak sedikit di antara kita yang berminat menuntaskan jalan luar umum ini,” ujar Presiden Soeharto ketika itu. Pembangunan yang membutuhkan waktu sekitar 5 tahun ini membuahkan hasil yang betul-betul mengagumkan. Dengan enam jalanan yang ada, terutamanya tiga di kiri dan tiga di kanan, mempermudah individu untuk bepergian.

Jalur ini diisolasi oleh jalan setapak yang hijau dan lebar di pinggir jalan yang hijau. Trek jalan juga dibagi lebar, tepatnya 3,75 meter jikalau dibandingi dengan lebar trek tarif pada lazimnya, adalah sekitar 3,5 meter. Untuk jalanan yang lebih komplit, Tol Jagorawi menghubungkan wilayah Jakarta, Cibubur, Citeureup, Bogor dan Ciawi. Untuk sementara, tarif pembangunan menempuh Rp. 350 juta per kilometer, yang pada tahun 1990 identik dengan Rp. 575 juta.

Presiden Soeharto meyakini Tol Jagorawi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan warga awam, umpamanya untuk jalan serba guna dan untuk kepentingan militer. Ia membayangkan bahwa jalan bebas hambatan ini bisa berubah menjadi krisis yang mengontrol tempat bagi pesawat pejuang apabila semestinya terjadi perang.

Pemimpin kedua Indonesia ini juga perlu menjadikan Jalan Tol Jagorawi sebagai sistem pergantian peristiwa yang tepat sasaran, terlebih di bidang keuangan.

Keuntungan

Trek yang berliku-kelok dan adakalanya lurus menghadirkan sensasi luar lazim bagi pengendara yang via Tol Jagorawi. Menyelidiki Jagorawi ibarat menerima bobot dari keunggulan karakteristik seperti panorama di lereng, gunung, danau, saluran air, sawah, taman jaringan dan pohon-pohon.

Sekitar saat itu, klien tol Jagorawi akan hancur dengan pesona Gunung Gede-Pangrango, Gunung Salak, dan pelbagai danau yang benar-benar memikat. Faktor lain dari Tol Jagorawi merupakan struktur dan perkembangan struktur yang memukau dan prima. Presiden Joko Widodo malah memuji Jagorawi sebab menurut pengakuannya, pelbagai negara sudah datang untuk memperhatikan dan mencontoh Tol Jagorawi.

“Sebagian waktu lalu saat kami mempunyai tol Jagorawi sekitar tahun 77. Segala orang datang untuk memandang tol Jagorawi, kami melihat pemerintahannya mencerminkan, mencontoh perkembangannya, semuanya mengikuti. Bangsa-bangsa di sekitar kami, bagaimanapun mereka kini mempunyai yang hebat kilometer banyak,”kata Presiden Jokowi dikala memberi tahu Tol Solo-Semarang Seksi III Bawen-Salatiga, September 2017.

Seiring kemajuan zaman, keunggulan tol Jagorawi semakin terasa. Jalan ini memiliki legitimasi yang luar awam dan mempunyai peran penting dalam mensupport kemajuan moneter di kawasan sekitar Jakarta.

Industri perjalanan dan wilayah mekanik di Puncak, Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Padalarang, Jawa Barat kian pesat semenjak tol Jagorawi mulai beroperasi.

Yang pertama ada di belakang yang pertama

Selain sebagai tol pertama yang akan dirakit, Tol Jagorawi juga menjadi tol berbayar pertama di Indonesia. Pada dikala pembangunan selesai pada tahun 1978, Menteri PUTL Ir. Sutami mengusulkan kepada Presiden Soeharto supaya jalan hal yang demikian diciptakan tol berbayar seperti di luar negeri.

Penjelasannya, sejak otonomi tahun 1945, Indonesia belum memiliki jalan tol yang mengkredit. Sutami mengusulkan supaya biaya operasional dan penunjang tidak, pada ketika ini menjadi muatan pada agenda keuangan pemerintah pusat namun bisa diawasi dengan bebas.

Presiden Soeharto mengakui Ir. Jalan Sutami jadi berubah menjadi tol berbayar yang disebut Tol Jagorawi. Pada ketika itu, Indonesia tak memiliki pertanda seputar jalan berbayar dan tak ada perusahaan yang secara eksplisit menangani atau mengawasi jalan tol berbayar.

Sejalan dengan itu, pemerintah memberikan Tata Pemerintah No. 4 Tahun 1978 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia sebagai landasan organisasi luar biasa untuk mengawasi dan mengawasi kerangka jalan. PP tersebut dikasih pada tanggal 25 Februari 1978.

PP berikutnya yakni pembatasan PT Jasa Marga pada 1 Maret 1978. Badan publik dengan pesat mengeluarkan aset sekitar Rp. 2 miliar kepada PT Jasa Marga untuk melengkapi kapasitasnya. (Warta Ekonomi Vol. 6, 1995).

Memang, kemungkinan tol berbayar pertama kali dikarang oleh Walikota Jakarta, Sudiro, yang menjabat pada periode 1953-1960. Mulanya, Sudiro perlu membuat jalan tol berbayar untuk menerima aset ekstra guna pembetulan ibu kota.

Sudiro merefleksikan dari pengalamannya menjelajah ke Amerika Serikat di mana negara ciptaannya menggunakan kerangka tarif berbayar. Tapi, alasan Sudiro kurang memuaskan dan pembangunan jalan berbayar belum selesai. (Dalam Indonesia Poenja Tjerita, Yogyakarta, 2016).

Begitulah penuturan Tol Jagorawi yang hingga dikala ini tetap menjadi keindahan para penumpangnya moda transportasi darat dikala mencapai jarak yang cukup jauh. Padahal gelar tol terbaik dapat diganti dengan tol lain, nama tol utama konsisten tak ada habisnya untuk Tol Jagorawi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top